Mengenai Saya

Foto Saya
nama kku zcha .. akku ithu : Manja . nakal . bandel . egois (scara gW anag cEweg ndiRi) . gk mandiri . sUka ngeBuwadh bingund oRang . chiLdizth . usil . lem0dhz . kyag singa bRanag (kL agy maRah) . pLupa . cepedh ngambeg . kecil . item . pendek . jelekk . . n0thing special. . ahaha. . =D

Sabtu, 11 Juni 2011

ANALISIS STRUKTUR DRAMA CIPOA KARYA PUTU WIJAYA

DRAMA CIPOA KARYA PUTU WIJAYA:
ANALISIS STRUKTUR DRAMA MENURUT TEORI KERNODLE
Oleh : Brigitta Pasca Puspitasari
10/299419/SA/15356
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra secara umum dapat dibedakan menjadi tiga yakni prosa, puisi, dan drama. Ketiga jenis karya sastra tersebut saling memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya, namun tetap terdapat perbedaan mendasar tentang pembagian tersebut. Dalam makalah ini, akan membahas karya sastra berupa drama.
Drama (Yunani Kuno: δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan". Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan denganmusik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.
Sastrawan ialah sebutan bagi orang-orang yang menghasilkan karya sastra seperti novel, puisi, sajak, naskah sandiwara dan lain-lain. Oleh karena itu, penyair, penulis, pujangga, dramawan serta profesi-profesi terkait lainnya bisa dikelompokkan sebagai sastrawan. Salah satu dramawan yang terkenal dan berasal dari Indonesia yakni, I Gusti Ngurah Putu Wijaya.
I Gusti Ngurah Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 67 tahun. Beliau adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu Wijaya menjadi seorang dokter, namun Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia. Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil asuhan sutradara ternama Arifin C. Noer dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres (1969). Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974).
Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-tiba malam, Sobat, dan Nyali. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.
Salah satu karya Putu Wijaya, yakni drama Cipoa akan menjadi bahan analisis ini. Drama teater berjudul Cipoa ini pernah dipentaskan oleh mahasiswa jurusan Sendratasik fakultas Budaya dan Sastra, Universitas Negeri Gorontalo. Drama ini bercerita tentang seorang juragan sebuah pertambangan yang memanfaatkan para pekerjanya demi keuntungan pribadi. Dengan tipu muslihat ia mengelabuhi mandor dan para pekerjanya untuk mencari emas, saat emas itu hampir didapatkan Ia meraup keuntungannya sendiri dan menjual kepada saudagar kaya raya tanpa memberitahu para pekerjanya. Kemudian, kejahatannya itu terbongkar oleh para pekerjanya dan membuat semua pekerja bermalas-malasan tetapi seorang pemimpin pekerja membangkitkan lagi semangat semua pekerja dan menjanjikan bahwa masih ada harta karun di dalamnya. Tenyata benar, mereka mendapatkan apa yang selama ini dicari, namun karena kekesalannya pada juragan telah membohongi mereka, maka mereka sepakat menyembunyikan dari juragan dan menutupinya agar disangka batu. Tak lama berselang, saudagar kaya itu menemui juragan karena Ia membutuhkan bongkahan batu, emas yang disangka sebuah batu oleh juragan Itupun dijualnya. Alhasil mereka semua kehilangan harta karun yang mereka cari.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini disusun sebagai Ujian Akhir Semester II mata kuliah Teori Drama. Tujuan lain dari penelitian drama ini untuk menganalisis struktur dalam drama Cipoa karya Putu Wijaya berdasarkan teori George R. Kernodle. Struktur drama Cipoa akan dikaji berdasarkan plot, karakter, dan tema.
1.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pembacaan secara berulang-ulang teks drama Cipoa. Setelah itu, metode pemaparan dengan menggunakan analisis kutipan dari drama Cipoa. Hal-hal yang dianalisis meliputi struktur dan drama Cipoa, akan digunakan analisis sruktur drama menurut teori George R. Kernodle.

II. ANALISIS STRUKTUR DRAMA CIPOA
Menurut Kernodle terdapat 6 nilai dramatik yang dikemukakan oleh Aristoteles adalah plot, karakter, tema, dialog, musik (ditafsirkan sebagai mood untuk drama modern) serta spectacle (Kernodle via Cahyaningrum,2010:159). Keenam nilai dramatik tersebut kemudian dikelompokan menjadi 2 yakni struktur dan tekstur drama. Struktur drama terdiri atas plot, karakter dan tema, sedangkan tekstur drama terdiri atas dialog, mood dan spectacle. Struktur drama adalah bentuk drama pada waktu pementasan. Dalam analisis ini, bahan kajiannya meliputi struktur drama.
2.1 Plot
Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu. Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot. Dengan kata lain, Plot adalah rangkaian sebab-akibat yang memicu krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks.
Kernodle membagi plot menjadi 14 bagian, yakni exposition(eksposisi), point of attack (titik serangan), inciting force (kekuatan penggerak), complication (komplikasi), build (pertumbuhan), minor climax (klimaks kecil), let down (penurunan), anticipation (antisipasi), forebonding (pratanda), great suspense (ketegangan besar), major crisis (krisis besar), major climax (klimaks besar), conclusion (kesimpulan), dan denouement (kesudahan).
Dalam drama CIPOA ini, terdapat beberapa bagian/tahapan seperti yang dikemukakan oleh Kernodle, berikut hasil analisisnya :
a. Eksposisi
Tahapan ekposisi berfungsi untuk menjelaskan kepada penonton apa yang telah terjadi sebelumnya dan bagaimana situasinya sekarang. Dengan demikian, penikmat drama tidak kebingungan dengan cerita sejarah dalam drama. Ekposisi dalam Drama Cipoa terdapat pada bagian awal teks drama, terbukti dengan kutipan dibawah ini:
- LAYAR BESAR SEPERTI BUKIT BATU. NAMPAK DALAM SILHUET BANYAK ORANG BEKERJA MENGGALI DALAM BERBAGAI UKURAN. DI DEPAN NAMPAK TIVRI SANG PENJAGA TAMBANG MASIH TIDUR. KABUT MULAI TURUN TANDA MALAM AKAN TIBA. JURAGAN MUNCUL DAN MEMPERHATIKAN, (hlm. 1)

b. Point Of Attack (Titik Serangan) Dan Inciting Force (Kekuatan Penggerak)
Titik serangan merupakan bagian yang memicu munculnya kekuatan penggerak atau dalam arti lain merupakan awal sebuah kisah drama. Buktinya terdapat pada kutipan drama berikut :
- JURAGAN
Ya Tuhan, mereka sudah hampir menemukannya.
JURAGAN MENGAMBIL LEMPENGAN BESI DAN PEMUKULNYA TANG ADA DI DEKAT TIVRI TIDUR LALU MEMUKULNYA LIMA KALI … MESIN. (hlm. 1)
- TIVRI (Setelah Meniup Sempritan Lalu Bicara Dengan Corong) Lho apa sudah pukuTepat pukul lima!
JURAGAN
Kabut sudah turun. Malam akan tiba. Semua harus berhenti kerja!
TIVRI
Tapi harta karun belum ketemu Juragan!
JURAGAN
Tidak apa, berhenti dulu. Kalau terlambat keluar mereka bisa disekap dalam tambang. Nanti dikawin sama setan. Mau nggak punya keturunan kepalanya monyet?
TIVRI
Nggak! (Ketawa Lalu Meniup Sempritan)
Oiiii sudah pukul lima, kabut sudah turun. Walaupun harta karun belum ketemu, berhenti semua. Kalau terlambat keluar bisa dikawin sama setan. Mau punya keturunan kepalanya monyet?
SEMUA BERHENTI BEKERJA DAN MEMBAWA PERALATANNYA KELUAR SAMBIL MENYANYI. DENGAN GEMBIRA DAN BERSEMANGAT.
JURAGAN
Bagus! (hlm. 1)

c. Complication (Komplikasi), Build (Pertumbuhan), Minor Climax (Klimaks Kecil), Dan Let Down (Penurunan)
Pada bagian ini, awal mula ketegangan dihadirkan. Setelah itu, ketegangan akan menaik, lambat laun menjadi keras menuju klimaks minor. Setelah itu, ada dua pilihan, yaitu memperlambat ketegangan atau melanjutkan ketegangan menuju ke ketegangan yang lebih besar.
Komplikasi merupakan masalah yang bermunculan untuk menimbulkan ketegangan yang kemudian diikuti oleh penurunan ketegangan.
- LALU MASUK KE DALAM TAMBANG. PARA PEKERJA MUNCUL SAMBIL MENYANYI LALU MELEMPARKAN BARANG-BARANGNYA DENGAN GEMBIRA KE ATAS AMBEN TEMPAT TIDUR TIVRI TADI …
Lho Juragan kok malah kerja. Juragaaaaaaan! Semua sudah keluar juragan Juragan!!!!!
ISTRI
Pak! Pak! Ada gempa Pak!
TIVRI MELONCAT LARI. ISTRI MEMPERHATIKAN.
ISTRI
Bagus! Pakkkkkkk! Orangnya sudah kabur Pak ( …. )
ALUNG
Asep-asep terus! Solar mahal sekarang Bos! (hlm. 3)
- ISTRI
Masak baru dua kali nyemprot sudah habis, korupsi kamu!!
ALUNG
Sumpah mati!
TIBA-TIBA BAPAK BERTERIAK ( …. )
ALUNG
Bu tolong Bu, aku kepencet!
(Ibu Tidak Bergerak) (hlm. 4)
- Y a sudah, yang pinsan tidak dapat bagian!
ISTRI JURAGAN CEPAT BANGUN DAN SEGERA MEMBANTU.
ALUNG
Lho bukannya tadi pinsan? ( …. )
ALUNG
Tulungin aku kepencet! Udah pecah kali satu ini! (hlm. 5)
- JURAGAN DAN ISTRI CEPAT MENOLONG. KETIGANYA LALU MENGANGKAT BONGKAH EMAS BESAR ITU. WAKTU ITU TIVRI MUNCUL LAGI. ( … )
Tivri, ini bukan harta karun yang kita cari itu, ini harta karun yang aku temukan sendiri. Jadi lain. (hlm. 6)
- TIVRI
Lainnya apa?
ALUNG
Ah sikat saja, sikat saja! ( … )
ISTRI
Harus dikatakan dengan cara lain, Pak. Pak Tivri, ini memang harta karun yang kita cari itu tapi (hlm. 7)
- JURAGAN
Tapi kalau sampai ketahuan semua orang, nanti pasti ribut. Akhirnya semuanya mau minta bagian. Harta ini akan diperebutkan. Kalau sudah pembagian harta biasanya mana ada yang merasa adil. Dalam sejarah pembagian warisan selalu berakhir dengan perkelahian. Tetap saja semuanya minta lebih banyak. Jadi ? ( … )
TIVRI
Tapi gede kayak setan begini, masak belum ketemu, tolol apa? Kalau mereka lihat kan kelihatan?(hlm. 8)
- BAPAK
Itu gampang sekali. Tinggal kita kubur lagi. Ayo kubur lagi!
ALUNG DAN ISTRI CEPAT MENUTU{PI BONGKAH EMAS ITYU DEMNGAN KAIN HITAM YANG SUDAH DISIAPKAN. ( … )
JURAGAN
Jadi apa yang harus kamu katakan kalau mereka nanti bertanya? (hlm. 9)
- Bertanya apa?
ISTRI
Apakah harta karun sudah diketemukan? ( … )
ISTRI
Kabut sudah datang, Pak! (hlm. 11)
- JURAGAN
Ayo cepat kita bawa pulang! Tiup sempritan kamu Tivri, siapa tahu masih ada yang di dalam! ( … )
PEKERJA (Yang Tadi Bicara Menunjuk Orang Lain)
Ini dia orangnya Pak.
PEMIMPIN PEKERJA (Langsung Mendekat Dan Menampar) (hlm.11)
- Apa yang kau bilang tadi bensye!?
PEKERJA
Aku tidak bilang apa-apa Bos, kenapa mulutlku ditampar? ( … )
LANGSUNG MULUTNYA DIBEKUK OLEH PEMIMPIN, LALU SEMUANYA DIPAKSA SEMBUNYI DI BALIK BONGKAH EMAS YANG DITUTUP KAIN HITAM. (hlm. 12)
- JURAGAN DAN IBU DAN SEORANG PEMBELI WARGA ASING SERTA DUA ORANG CENTENGNYA MUNCUL.
JURAGAN
Ini harta karun emas asli 1000 karat Tuan. ( … )
PEMBELI KAYA
Awas minggir ! Mereka sudah diprogram untuk ngetes, tidak bisa dibatalkan. (hlm. 13)
- LANGSUNG MENDORONG BAPAK DAN MENGAMPIRI SERTA MEMELUK ISTRI AGAR TERHINDAR. KEDUA CENTENG ITU MENUBRUK DENGAN KERAS PAKAI KEPALANYA BONGKAS EMAS DAN TERJUNGKAL JATUH. ( … )
PEMBELI KAYA PERGI SAMBIL TERUS MEMELUK ISTRI JURAGAN DAN MEMBAWANYA PERGI. JURAGAN TERSENYUM DAN MELAMBAI SAMPAI KEDUANYA PERGI. ALUNG MUNCUL DAN MELIHAT UANG DI TANGAN JURAGAN. (hlm. 14)
- JURAGAN
Apa kau ngintip-ngintip?!
ALUNG
Juragan
JURAGAN
Ah kau ini masih pagi belum waktunya kerja! ( … )
JURAGAN
Itu tidak dijual!! (hlm. 15)
- PEMIMPIN PEKERJA
Kita tertipu lagi. Barang pusakanya ternyata sudah ketemu!
PEKERJA
Makanya Pak, jangan kita terlalu percaya sama si TIVRI! ( … )
PEKERJA
Ngapain capek-capek kerja
TIVRI
Wah semangat kamu sudah luntur. (hlm. 16)
- PEKERJA
Kau yang luntur, Pengkhianat!
TIVRI
Lho kok marah?
PEMIMPIN
Sikat saja lemper ini! ( … )
PEMIMPIN PEKERJA
Suruh dia membuat pengakuan dosa! Koar-koar nyuruh kita kerja padahal harta sudah dilego (hlm. 17)
- SALAH SEORANG MAU MENAMPAR. ISTRI TIVRI MENJERIT
PEKERJA
Lho yang ditampar di sini kok kamu yang menjerit?
TIVRI MAU NGOMONG, CEPAT SALAH SATU MEMLESTER MULUT TIVRI ( … )
ISTRI TVRI
Disuruh Juragan dan Ibu. Katanya biarin jangan dikasih tahu yang lain, nanti nggak ada yang mau kerja lagi. Kalau tahu harta karun sudah ketemu, nanti malah gontok-gontokan. Mereka kan pemalas semua!
PEKERJA
Kurangajar! (hlm. 18)
- ISTRI TIVRI
Itu kata Juragan bukan kata suami saya!
PEMIMPIN PEKERJA
Kok kamu tahu ( … )
ISTRI TIVRI
Lho Bapak tidak tahu? (hlm. 19)
- PEMIMPIN PEKERJA
Mana kita tahu
ISTRI TIVRI
Kenapa tidak tahu
PEKERJA
Kan kita bodoh
ISTRI TIVRI
Ya Tuhan, kalau kirain tahu, kalau begitu kenapa saya bilangin. Aduh maafkan aku suamiku. Aku salah ngomong lebih baik pinsan saja! ( … )
PEKERJA
Sialan, kalau begitu seumur hidup. Habisin saja! (hlm. 20)
- LANGSUNG MAU DITAMPAR, TAPI PEMIMPIN MENCEGAH.
PEKERJA
Kita tidak perlu jawaban karena ketakutan.
(Mengulurkan Tangan. Tivri Heran Tapi Menyambut. Lalu Pekerja Berkata Lembut)
Mengapa ente bohong ( … )
Aduh, kalau begini aku kapok jadi tukang bual! Aku berhenti! Lebih baik cari uang halal untuk anak bini. (Melihat Istrinya Berbaring) Ya Tuhan! Istriku mati? Kalau dia mati, aku lebih baik bunuh diri!
MENGAMBIL PISAU HENDAK MENUSUK DIRINYA SENDIRI. ISTRI TIVRI BANGUN.
ISTRI TIVRI
Jangan Bang!
TIVRI (Tertawa)
Tertipu lagi! Dasar suka nipu aku jadi ahli. Tapi mulai sekarang aku berjanji akan berhenti!


d. Anticipation (Antisipasi), Forebonding (Pratanda), Great Suspense (Ketegangan Besar), Major Crisis (Krisis Besar), Major Climax (Klimaks Besar), Conclusion (Kesimpulan), Dan Denouement (Kesudahan)
• Antisipasi adalah tahapan dimana ada pro dan kontra antar tokohnya. Kutipan tengtang tahap Antisipasi ini sebagai berikut :
- BAGIAN KETIGA
SEMUANYA MASIH TIDURAN MALAS DI ATAS BALAI-BALAI. TIVRI JUGA IKUT TIDURAN. ISTRI MUNCUL DAN TERKEJUT.
ISTRI ( …. ) JURAGAN DAN ISTRINYA MEMUKUL LONCENG DABN MENIUP SEMPRITAN BISING. ISTRI MENYANYI. (hlm. 22)
- Harta karun pusaka bangsa harus dicari, digali, kalau tidak bisa dicuri!
TIVRI BANGUN
TIVRI
Tidak akan berhasil Juragan!
JURAGAN
Kenapa? ( …. ) TIVRI (hlm. 23)
- Jamin!
JURAGAN
Oke kalau begitu bangunkan mereka.
TIVRI CEPAT MENGAMBIL CORONG LALU MENIUP SEMPRITAN.
TIVRI
Tambang harta pusaka isinya hanya batu. Harta Pusaka tidak pernah ada. Tetapi bangsa yang besar adalah bangsa yang terus berjuang dan bisa mengubah batu menjadi emas. Singsingkan lagu baju. Majuuuuuu! (hlm. 24)


• Pratanda adalah tahapan alur drama yang menjdai tanda menuju pada ketegangan besar. Buktinya
- ISTRI
Itu mobilku?
ALUNG
Ini mobil Ibu!
ISTRI BERSORAK DAN MENGAMBIL MOBIL. ( …. )
BAGIAN KEEMPATDALAM KABUT, PARA PEKERJA DATANG SAMBIL MENGANGKAT HARTA PUSAKA. BONGKAH EMAS YANG LEBIH BESAR DARI SEBELUMNYA. TIVRI MENARIKNYA DENGAN TALI, SEDANG ISTREINYA IKUT MENGANGKAT. (hlm. 25)
- TIVRI
Akhirnya! Selamat atas kemenangan ini!
PEKERJA
Kita berhasil membuat batu menjadi emas
TIVRI
Itu berkat perjuangan yang tidak kenal lelah
( … )
TIVRI
Wah itu tidak adil. (hlm. 26)
- PEKERJA
Memang keadilan itu tidak merata, karena datangnya bergantian jadi Nampak seperti tidak adil. Tapi inilah keadilan yang sejati.
TIVRI
Tapi bagaimana bisa bohong emasnya besar begini.
PEMIMPIN PEKERJA
Bohong itu paling gampang, tidak bisa habis. Siap semua! (hlm. 27)

• Ketegangan besar yang berlanjut pada puncaknya. Buktinya :

- TERDENGAR BUNYI KLAKSON. SEBUAH MOBIL MEWAH BERHENTI. LALU JURAGAN ISTRI DAN ALUNG TURUN. MEREKA MEMAKAI PAKAIAN MEWAH. (hlm. 27)
JURAGAN
Lho belum pukul lima mengapa sudah berhenti kerja?
TIVRI
Habis mereka
PEKERJA MENUTUP MULUT TIVRI
( ….)
ISTRI
Tapi Pak… (hlm. 28)
- JURAGAN (Membentak)
Tarik!
ALUNG
Aduh sudeah biasa naik mobil, narik batu jadi aku merasa hina.
JURAGAN
Jangan bicara, tarik!
( …. )
PEMIMPIN PEKERJA
Tidak usah di tes ini hanya batu. Sumpah ini hanya batru.
JURAGAN (hlm. 29)
- Awas!
PEMBELI KAYA
Tesssssssss!
KEDUA CENTENG MENUBRUKKAN KEPALANYA. PARA PEKERJA BERLOMPATAN MENYELAMATKAN DIRI. KEDUA GENTENG TERPENTAL. DAN JATUH. ( …. )
ALUNG DISERET JURAGAN UNTUK MENGEJAR ISTREINYA. TINGGAL PARA PEKERJA BENGONG. (hlm. 30)
- PEKERJA
Ya Tuhan herta pusaka kita dibawa
PEKERJA
Dijual hanya harga batu
PEMIMPIN PEKERJA
Bodo! Bodo! Kalian semua kerbau! Kenapa harta pusaka dibiarkan dibawa pergi? ( … )
PEKERJA
Berani! (hlm. 31)
- (Mengambil Corong)
Ayo teriak sebelum keburu dinaikkan ke kapal!
TIVRI
Tapi salaman dulu!
PEKERJA
Sialan! Cepet! (hlm. 32)


• Kesimpulan adalah tahap akhir dari sebuah drama dan menjadi penutup.
Kutipan yang memperkuat kesimpulan :
- ISTRI
Ya Tuhan harta karun sebesar gajah? Diangkut ke luar negerai sebagai batu? Aku juga jantungan! (hlm. 32)
ISTRI TUMBANG.
JURAGAN
Jadi aku sudah menjual harta karun sebagai batu?
TIVRI
Lho aku kira Juragan tahu! ( … )
TIVRI
Para pemirsa di seluruh Tanah Air mulai saat ini kita memasuki era baru satu kata dengan perbuatan. Kita bersumpah dalam berkata selamanya jujur!
TERDENGAR LAGU KERJA. KABUT MULAI DATANG LAGI DAN DI BUIKIT NAMPAK SILHUET ORANG-ORANG BEKERJA.
SELESAI (hlm. 33)

2.1 Karakter
Unsur karakter (character) yang dalam drama biasa disebut tokoh, adalah bahan paling aktif kedua untuk menggerakkan alur. Lewat penokohan ini, pengarang dapat mengungkapkan alasan logis terhadap tingkah laku tokoh. Drama Cipoa menampilkan karakter-karakter yang menunjukan sifat keserakahan manusia. Secara simbolik drama ini menggambarkan carut marut perebutan harta kekayaan yang berakar pada kebohongan publik.

 Karakter juragan dan istrinya
Sosok Juragan ditampilkan sebagai pihak yang paling berkuasa atas hidup para pekerjanya. Karakter Juragan merupakan tokoh yang paling mendominasi, hal itu ditunjukkan dengan seringnya tokoh Juragan dimunculkan.
Dipandang dari dimensi psikologis, Juragan dan istrinya mempunyai sifat kikir dan serakah. Gambaran karakter seperti itu dapat ditunjukkan pada saat adegan ia bersama istrinya memerintah para pekerja untuk menggali tambang demi harta karun emas yang akan dinikmati oleh juragan,istrinya dan Alung pembantunya. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kutipan berikut.
- “Ya Tuhan, mereka sudah hampir menemukannya.” (hlm 1)
- … JURAGAN MENGAMBIL LEMPENGAN BESI DAN PEMUKULNYA TANG ADA DI DEKAT TIVRI TIDUR LALU MEMUKULNYA LIMA KALI. TIVRI TERSENTAK BANGUN …. (hlm 1)
- …. Kalau sudah pembagian harta biasanya mana ada yang merasa adil. Dalam sejarah pembagian warisan selalu berakhir dengan perkelahian. Tetap saja semuanya minta lebih banyak…”(hlm 8)
Selain memiliki karakter kikir, Juragan dan istrinya juga memiliki sifat licik, kelicikannya tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan dibawah ini.
- “Awas jangan sampai ketahuan!.” (hlm 5)
- “Sabar, banyak cara lain.” (hlm6)
- “Begini.
MENGELUARKAN DOMPETNYA DAN MELETAKKAN UANG DI TANGAN TIVRI …(hlm 7)
- “ Tapi kalau sampai ketahuan semua orang, nanti pasti ribut. Akhirnya semuanya mau minta bagian. Harta ini akan diperebutkan. Kalau sudah pembagian harta biasanya mana ada yang merasa adil …”(hlm 8)
- “Sttt! Jadi demi keutuhan persatuan, sebaiknya kita bilang saja kepada mereka semua, hartanya belum ketemu, masih terus kita cari” (hlm8)
- “Itu bukan bohong! Berbohong demi kebaikan itu bukan bohong tapi kebajikan. Apalagi berbohong demi perdamaian, demi persatuan dan keamanan untuk stabilitas dan kesejahteraan …”(hlm 9) dsb.

 Karakter tivri
Dipandang dari dimensi sosiologis, karakter Trivi dalam drama Cipoa digambarkan denga karakter orang dungu, seseorang yang tolol atau lebih halusnya mudah untuk diperalat. Kedunguannya inilah yang kemudian digunakan oleh orang-orang yang berkuasa seperti tokoh Juragan. Dalam drama Cipoa, Ia mempunyai peran sebagai pengawas para pekerja tambang. Namun, sama seperti cerita-cerita populer lainnya, kedunguan Tivri justru dipergunakan untuk Juragan, istri dan Alung dapat berfoya-foya dengan hasil kerja keras orang lain , hal itu dapat dibuktikan pada kutipan berikut.
- JURAGAN DAN ISTRI CEPAT MENOLONG. KETIGANYA LALU MENGANGKAT BONGKAH EMAS BESAR ITU. WAKTU ITU TIVRI MUNCUL LAGI. …. Itu namanya CS, aku sayang sama orang yang setia! ”(hlm 6-10)

 Karakter pemimpin pekerja
Dipandang dari segi psikologis, Karakter Pemimpin pekerja dalam drama Cipoa mempunyai sifat yang kasar, hal tersebut dapat dilihat dari sikapnya menghadapi orang-orang disekitarnya, ia mudah tersinggung dan mudah menampar orang yang secara tidak sengaja menyinggung perasaannya. Dapat dibuktikan karakter tersebut pada kutipan berikut.
- Mulutnya sudah distel, kita dikibulin terus bekerja supaya Juragan bisa jual harta pusaka! Jangan-jangan Bapak juga(hlm 16)
- PEMIMPIN PEKERJA MAU MENGGAMPAR. TANGANNYA CEPAT DIPEGANG TEMANNYA.
- Bapak kan pemimpin kita, jangan kebiasaan main gampar aja, aku kan tadi mau bilang
- Habis aku dituduh sudah kena suap?
- Lho siapa yang nuduh, Bapak terlalu sensitive
- Kalau aku tahu itu sogokan pasti aku tolak aku kira itu
- Sttttttt!(hlm 16)

2.2 Tema
Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Dalam tema tersirat amanat atau tujuan pengarang menulis cerita. Tema juga dapat berarti ide dasar, ide pokok atau gagasan yang menjiwai seluruh karangan yang disampaikan. Tema dapat disampaikan secara eksplisit maupun implisit, dalam drama Cipoa ini, pengarang menyampaikannya secara eksplisit lewat dialog para tokohnya. Buktinya :
- JURAGAN
Gila kalau begini caranya, aku kapok, mulai sekarang aku perintahkan jangan ada kata bohong lagi. Tidak boleh ada dusta di antara kita! Semua harus jujur! Jujur kepada siapa saja! Jujur kepada rakyat, jujur kepada pemimpin, jujur kepada diri sendiri. Jujur kepada …….
- TRIVI MEMUKUL BEL DAN MENGAMBIL CORONG, SEMENTARA JURAGAN TERUS BICARA.
- TIVRI
Para pemirsa di seluruh Tanah Air mulai saat ini kita memasuki era baru satu kata dengan perbuatan. Kita bersumpah dalam berkata selamanya jujur! ( hlm. 33)

III. KESIMPULAN
Drama karya Putu Wijaya yang berjudul Cipoa ini sangat menarik. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan terdapat pula bahasa pergaulan yang tidak asing bagi pembaca. Drama ini dibuat sangat sederhana, tetapi sarat makna. Drama Cipoa menyampaikan pesan lewat sindiran atau kritik sosial terhadap pemerintah atau keadaan politik di Indonesia saat ini. Tokoh Juragan merupakan gambaran pemerintahan saat ini mengagungkan kekuasaan agar dilayani, mendapatkan apa yang diinginkan tanpa memikirkan nasib rakyatnya. Rakyat disini digambarkan oleh para pekerja yang bekerja mati-matian dari pagi hingga menjelang malam demi mendapatkan sesuap nasi. Di sisi lain, juragan enak-enakan menikmati hasil keringat pekerjanya.
Drama ini menarik dengan dialog yang ceplas-ceplos, karakter tokoh-tokohnya yang disajikan pengarang amat polos sehingga terkesan bodoh. Namun dari itu semua pengarang ingin memunculkan hal lain yaitu realita karakter masyarakat Indonesia yang menganggap dirinya pintar padahal hanya karena harta kekayaan, rela berbuat hal yang konyol dan bodoh serta mengesampingkan bahkan membuang jauh-jauh sebuah kejujuran. Selain itu melalui drama ini pengarang mendeskripsikan mental para pemimpin yang mementingkan diri sendiri tetapi mengatasnamakan rakyat, hal itu sesuai dengan keadaan para pemimpin yang ada di negara kita ini. Setelah membaca drama ini saya mengimajinasikan sebuah gambar karikatur pemimpin-pemimpin negara kita yang digambar pembuatnya lucu namun terdapat kritik sosial.

Di akhir cerita, pean moral disampaikan secara eksplisit oleh tokoh Tivri yakni berbohong demi keserakahan individual bukan yang seharusnya diutamakan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, namun kejujuran atau keterbukaanlah antara pemimpin dengan bawahannya agar tidak terjadi hal seperti yang tergambar pada drama CIPOA.

IV. Daftar Pustaka
Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Drama. Sejarah, teori, dan penerapannya.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Putu_Wijaya
http://wwwbloggercomfriendship03.blogspot.com/2011/04/pengertian-alur-plot-penokohan.html
http://naskah-teater.blogspot.com/2011/04/naskah-drama-cipoa.html
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/30/229910/293/14/Drama-Teater-Cipoa-Karya-Putu-Wijaya-Dipentaskan-di-Gorontalo
http://bandarnaskah.blogspot.com/2011/02/cipoa-putu-wijaya.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut